Aku, Dia dan Bersih

Kemarin pagi aku menyelesaikan tugasku di kantor FORMAPPI. Sekitar pukul 03.10 WIB, setelah membelokan tatapan dari jam dinding ke jendela depan, ada seorang bapak berjaket lewat dengan rokok terjepit di jemari tangan kiri. Serentak kulihat ke meja. Aku periksa bungkus demi bungkus. Kosong! Syukurlah, sebelum makian, “bangke!” kulontarkan, refleks tangan kananku meraba-raba telinga. Masih tersisa sebatang yang terjepit di telinga.

Rokokpun membara dan aku mulai mengunjungi “catatan kami”. Aku baca tentang pengalaman yang menggetarkan di Bantar Gebang – Bekasi, Jawa Barat, tentang pemulung-pemulung yang riang. Kebetulan rumah ku dari tempat tersebut lumayan dekat jadi bisa di tempuh dengan menggunakan motor sekita 10 - 15 menit. Belum sempat tergetar, di tengah tulisan tiba-tiba aku termangu setelah sadar rokok tinggal sebatang. Bergegas merapikan perlengkapan, aku putuskan pindah ke sevel untuk melanjutkan baca. Itung - itung sekalian mejeng siapa tau ada yang bisa di ajak kenalan dan jadian( Seperti di film film FTV itu loh ).

Setibanya di sana, kubeli rokok dan slurpy dengan rasa yang tidak karuan seperti muka saya yang agak sedikit berantakan ini untuk menemaniku duduk bersantai di sana. Sevel lebih sunyi dari biasanya. Hanya dua meja yang ditempati pelanggan. Mungkin karena sudah terlalu larut malam.
Aku melanjutkan membaca. Sebuah tulisan yang singkat. Nampak begitu dalam pengalaman di Bantar Gebang bagi si penulis. Kehidupan yang tidak biasanya kita dapatkan.

Wahh!”, mataku menatap dari meja ke meja. Botol, kaleng, pembungkus makanan dan snack bersebaran di meja-meja. Ada yang sudah terinjak dan menyebar di bawah kursi. Sekejap kubingkai lokasi tempat aku nongkrong. Ternyata penuh dengan sampah. Padahal, tempat sampah hanya dua langkah dari setiap meja disitu.

Membangun kesadaran untuk hidup bersih memang tak semudah berucap kata. Sekian banyak petunjuk dan palakat yang dipasang agar pelanggan tidak meninggalkan meja dalam keadaan kotor, tidak berdampak. Ada juga seruan pada stiker untuk tidak membuah sampah di sembarang tempat malah dicoret-coret. Apa yang salah dengan kita?

Sebatang lagi rokok kunyalakan dan mulai berefleksi tentang apa lagi yang belum dilakukan untuk menyadarkan orang tentang kebersihan. Plakat, stiker, iklan, video, film bahkan sudah bertahun-tahun menjadi media penyadaran. Mulai dengan menyadarkan teman, keluarga dan komunitas tempat aku berhimpun, pikirku adalah langkah yang sudah basi dan tidak menunjukan hasil.

Seorang janitor mulai membersihkan meja-meja di sekitarku. Sementara itu aku mulai menemukan sederet kata untuk disampaikan ke banyak orang tentang kebersihan. “Hanya diri aku/kita sendiri yang bisa memastikan kebersihan.” Kadang kemalasan datang karena kita berpikir ada yang akan menangani hal itu. “Toh nanti ada yang membersihkan”, sering kita membesit begitu ketika akan berlaku tidak bersih.

Terdiam sejenak, aku menyimak kalimatku tadi. Bayangkan kalau setiap orang selalu mengingat dan menyadari sepenggal kalimat ini! Apakah masih perlu petugas kebersihan? Aku tidak perlu menegur teman untuk tidak membuang sampah sembarangan. Dia tentu sadar bahwa hanya dia yang bisa memastikan bersih terjadi.

Hanya dia dan bersih!

Tersenyum aku sambil mengisap rokok yang masih membara. Sebuah bayang yang menarik. Kubereskan laptop dan pulang ke kantor. Tak lupa aku membuang kaleng dan kumpulan puntung rokok di atas mejaku. Yahh… Aku harus memastikan bersih itu terwujud.

Hanya aku dan bersih!

Related Articles

0 comments:

Post a Comment

Silahkan dicomment ya, dan kalo ada yang mau ditanya silahkan tulis di bawah ini ^_^v

Visitor