Cerita Koplak

Tanda Penting Kolam Renang

Seorang wanita baru saja keluar dari kolam renang dengan bikini begitu seksi. Tiba-tiba beberapa pengunjung bersuit-suit ria nan genit. Wanita itu pun terheran-heran, kenapa juga pakai bikini saja digoda-goda. Tapi saat ia melihat ke bagian bawah tubuhnya, ia terkejut setengah mati setelah tahu tali celana bikininya putus dan merosot jauh dari letak sebelumnya. Dengan tergesa-gesa wanita itu asal saja mengambil papan untuk sekadar menutup bagian vitalnya itu. Lho, tapi kok, para pengunjung kolam renang malah makin berteriak-teriak? Apakah ada hal lain yang terbuka? Ah, saat wanita itu kembali melihat ke bagian bawah tubuhnya, ternyata di papan tersebut bertuliskan: “Pintu masuk khusus pria”. Dengan cepat wanita itu membuang papan tadi dan mengambil papan lain yang ia harap lebih aman. Tetapi pengunjung lain tetap saja tertawa keras. Setelah dilihat lagi, si wanita mendapatkan tulisan: “Dewasa Rp 50.000, Rombongan Rp 30.000”. Si wanita makin panik dan segera mencomot papan lain. Dan tertawa pengunjung semakin riuh. Bahkan tidak hanya datang dari para pria muda, tapi juga opa-opa peot yang tampak sedang berjemur. Dan kali ini papan itu bertertuliskan: “Daerah berbahaya, kedalaman hingga 2 meter. Anak-anak dilarang masuk!”.

Di Halte Bus

Di suatu sore, seorang penjaga keamanan di sebuah halte bus dengan panik melihat seorang wanita dengan busana yang begitu mencolok. Hanya sebelah dadanya yang tertutupi pakaian, sedangkan yang lain terbuka tanpa pelindung sama sekali. Berniat ingin menangkap dan membawanya ke pos keamanan terdekat, petugas keamanan tersebut bertanya baik-baik kepada sang wanita. "Selamat sore, Ibu. Ibu saya tangkap karena berbuat asusila di depan publik." Wanita tersebut kaget dan hendak menampar pipi petugas keamanan itu. "Bapak jangan kurang ajar ya, apa yang saya timbulkan hingga saya dituduh berbuat asusila?"
Sang petugas keamanan mencoba menjelaskannya perlahan, "Sebelumnya saya meminta maaf lagi. Tapi maaf, dada Ibu sebelah lagi tidak tertutup sehelai benang pun." Panik, sang wanita malah berteriak, "Ya Tuhan! Pasti anakku ketinggalan di bus saat tengah menyusui!"

Umur Istri

Seorang suami baru saja membeli mobil baru untuk dirinya. Namun sang istri selalu ingin mengendarai mobil tersebut. Sang suami khawatir jika istrinya malah merusak body mobil yang sangat mulus itu. Setelah seminggu berlalu, sang suami akhirnya mempersilahkan sang istri untuk mengendarainya. Pertama-tama sang istri tahu cara menyalakan mobil dengan benar. Tapi benar saja, baru berjalan sekitar seratus meter, sang istri sudah menabrakkan mobil ke trotoar di pinggir jalan. “Untung tidak ada bagian mobil yang lecet,” ujar sang suami. Sang suami mencoba menasehati istrinya yang bawel. Tapi sudah puluhan ancaman dia terima, dari mulai tidak akan diberi makan hingga tidak berhubungan seks selama enam bulan. Mobil mulai berjalan lagi, tapi lagi-lagi hampir menabrak sesuatu. Kali ini yang hampir menjadi korban adalah anak kecil yang ingin menyebrang. Sang suami langsung saja menggumam, “Ya, terserah kamu kalau masih ngeyel ingin menyetir. Jangan salahkan aku kalau nanti obituari tentang dirimu yang muncul di koran akan menguak umurmu yang sebenarnya ke teman-teman arisanmu.”

Bertemu Mertua

Siapapun dia, entah bertampang kutu buku, atau gahar dengan badan besar serta rambut gondrong, seperti saya, bila bertemu ibu calon mertua pertama kali pasti akan bersikap santun, manggut-manggut, lalu meluluskan segala apa yang diminta si ibu. Termasuk menghabiskan hidangan yang telah dibuat olehnya. Itu terjadi pada saya tahun lalu ketika diajak pacar saya ke rumahnya untuk bertemu ibunya. Kejadian ini terjadi pada hari Minggu siang, di mana sang ibu sedang membuat makanan dan rujak. Saya tiba di rumahnya sekitar pukul 12.00 siang. Karena belum lapar, maka tawaran makan siang saya tolak halus. Setelah berbincang-bincang hangat, pada pukul 13.00, si ibu kembali menawarkan hidangan yang kali ini berupa rujak dari belimbing sayur dengan kuah melimpah. Mau nolak pasti sulit. Padahal perut saya sudah mulai keroncongan, yang artinya tidak mungkin melahap rujak dengan perut kosong. Okelah, saya cicipi sedikit. Glek! Rasanya begitu asam sekali. Namun si ibu terus menyemangati saya untuk menghabiskannya. Setengah piring, lama-lama akhirnya habis juga rujak belimbing itu. Namun perut saya menjadi begitu panas tidak tertahankan. Kemudian saya bersama pacar saya pun pergi bersama. Sayangnya, di dalam mobil kondisi perut saya terus menjadi. Panas terbakar, terputar-putar, meledak-ledak. Saya ibarat monster gondrong yang merintih-rintih. Saya mengendarai mobil sambil meringis dan membungkuk. Mungkin mobil-mobil sebelah saya akan bingung melihatnya. Sayangnya pacar saya malah tertawa lebar melihat kondisi saya. Dan tragedi ini berakhir di toilet sebuah stasiun bbm.

Nempel Di Kumis

Dua ekor kutu yang bersahabat karib sudah lama terpisah oleh jarak dan waktu. Kutu A tinggal di Surabaya dan kutu B jauh di Bandung. Karena ada suatu keperluan, kutu A dan B bertemu di ibu kota Jakarta.
Kutu B: “Sudah lama kita tidak bersua. Btw, kamu ke sini naik apa?”
Kutu A: “Pesawat, dong!” (Supaya kutu B percaya, dengan sombong ia memperlihatkan aksi menggigil) “Saya nemplok di kumis pilot. AC di cockpit dingin sekali. Saya jadi kedinginan, nih.”
Kutu B merasa tidak mau kalah. Ia berkata kalau dahulu ia juga sering naik pesawat. Kutu B pun memberi saran, “Lain kali, jangan milih nemplok di kumis. Tapi pilih di pramugari saja. Kamu masuk dalam rok, lalu merayap ke atasnya. Di situ ada tempat yang anget, lho!
Selang lima hari, kutu A dan B kembali saling bersua. Tapi kutu A mengaku masih saja mengeluh kedinginan.
Kutu B: “Kamu tidak ikuti saran saya, ya? Kok masih saja menggigil kedinginan seperti itu?”
Kutu A: “Sumpah, saya sudah menjalankan saran kamu. Saat di pesawat, saya masuk ke dalam rok pramugari, dan memang benar anget sekali. Saking angetnya, sampai-sampai saya tertidur. Tapi, eh, bangun-bangun saya sudah berada di kumis si pilot lagi.”

Amarah Bikers Camer

Meski pacar saya cantik bukan kepalang, namun ia memiliki ayah super galak, ditakuti seluruh orang, dan dihormati preman ujung gang. Maklum, beliau petinggi LSM. Bagi saya ini adalah tantangan. Hari pertama wakuncar suasana pun kondusif. Saya bisa mengenalkan diri secara baik. Ayah pacar saya itu juga menyambut begitu terbuka dan hangat. Malah kesan gahar jauh darinya. Beliau sangat baik dan humoris. Hingga di hari Sabtu sore, saya akan ke rumah pacar dan melewati jalan yang padat semrawut. Sebagai biker, emosi saya benar-benar teruji. Saat menjelang pasar, saya melihat ayah pacar saya mengendarai motor. Secepat kilat saya kejar dengan maksud menegurnya. Saat posisi sudah saling berdekatan, macet menghadang kami. Lalu tiba-tiba, “Brak!” Bagian depan motor saya menabrak buntut motor ayah pacar saya. Dalam sekejab ia menoleh. Saya mencoba tersenyum, tapi lupa kalau masih pakai helm full face dan sarung penutup muka. Sehingga saya benar-benar tidak dikenali. Di luar dugaan, kondisi tadi menyulut emosinya. Tiba-tiba ia menghardik saya, menunjuk-nunjuk, lalu turun dari motor dengan emosi besar. Semua orang yang melihat kejadian segera melerai. Saya yang belum sempat membuka helm dan memberi tahu saya ini siapa sudah didorong-dorong olehnya. Beberapa orang menyuruh saya untuk pergi saja. Akhirnya saya menghindari beliau, dan tidak jadi ke rumahnya. Kejadian ini tidak hanya berimbas pada helm dan jaket yang saya ganti, tapi juga saya sampai menjual motor saya dan membeli yang lain agar ayahnya tidak mengenali siapa yang ia hardik di pasar waktu itu.

Related Articles

0 comments:

Post a Comment

Silahkan dicomment ya, dan kalo ada yang mau ditanya silahkan tulis di bawah ini ^_^v

Visitor