Mengenai Digital Culture

Berikut ini akan saya jelaskan mengenai Digital culture merupakan suatu perubahan drastic yang berdasarkan sangat cepatnya kemajuan teknologi dari jaman ke jaman yang tidak akan ada habisnya.Misalkan pada jaman dahulu orang masih memakai surat untuk saling sapa maka dengan seiring majunya teknologi maka sekarang orang – orang sudah banyak yang memakai e-mail yang merupakan singkatan dari electronic mail yang di artikan ke bahasa Indonesia surat elektronik.Orang bisa menulis surat dan mengirimnya hanya dalam tempo yang singkat sekali.

Berbeda dengan kotak surat yang terikat ruang, e-mail bekerja dengan cara yang sama sekali berbeda. Ia bekerja secara individual. Ia adalah kotak surat yang selalu terhubung dengan Anda selama 24 jam sehari dan 7 hari dalam seminggu. Anda dapat membukanya kapan saja dan dimana saja, meskipun, tentu saja dengan syarat adanya koneksi Internet dan kepemilikan account e-mail. Tidak masalah Anda berada di mana, selama Anda dapat mengakses internet, Anda dapat membuka ”kotak pos” Anda, mungkin melalui laptop atau ponsel yang Internet-ready. Atau, kita dapat melihat contoh lain. Hari ini, hampir semua bank komersial telah memiliki layanan Internet Banking atau SMS Banking, yakni layanan perbankan berbasis Internet yang dapat diakses selama 24 jam. Setiap saat, kita dapat melakukan transfer, melakukan pembayaran tagihan, mengecek saldo, dan transaksi non-tunai lainnya. Selain itu, bank juga akan melaporkan semua jenis transaksi perbankan kita melalui SMS.

Semua ini pada titik tertentu telah mengubah kebiasaan kita dalam bertransaksi. Kita tidak lagi harus repot-repot terjebak dalam antrian panjang hanya untuk membayar setoran listrik atau tagihan telepon bulanan, meskipun tentu saja untuk melakukan penarikan tunai, kita tetap harus melakukan aktivitas sebagaimana biasanya.Ilustrasi di atas hanya merupakan sekelumit dari sekian banyak contoh yang dapat dikemukakan tentang cyberculture. Menceritakan bagaimana fenomena cyberculture tampaknya memang agak lebih mudah ketimbang menjelaskan definisi dari cyberculture itu sendiri. Oleh karena itu, saya ingin memulai dari pengertian ”culture” dalam kata cyberculture itu.Sebagaimana diketahui bahwa culture dapat dipadankan dengan istilah budaya atau kebudayaan dalam bahasa Indonesia.

Namun sebagai term teoritis, ia menjadi wilayah kajian yang teramat luas untuk didefinisikan dalam satu istilah atau satu konteks tertentu saja. Sebab, kebudayaan adalah sebuah dialektika dan oleh karenanya ia selalu berkaitan dengan konteks. Inilah yang kemudian menyebabkan para ahli seringkali mengambil sikap fleksibel dalam mengartikan kebudayaan.Salah satu kunci dalam konsep kebudayaan adalah makna (meaning). Pemaknaan kita terhadap sesuatu-lah yang sesungguhnya melahirkan sikap kita terhadap sesuatu itu. Oleh karena itu, kebudayaan dapat dikatakan sebagai proses konstruksi makna kita atas sesuatu. Ketika kita memiliki kebiasaan tertentu dalam kehidupan kita sehari-hari, sesungguhnya hal itu tidak terlepas dari konstruksi makna kita atas dunia yang kemudian dimanifestasikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Pada intinya digital culturesadalah menggunakan value discreate (putus-putus) untuk menyatakan suatu informasi tertentu. Saat ini istilah digital sering di asosiasikan dengan penggunaan kode binary dalam komputer dan peralatan elektronik lainnya. namun dengan melihat definisi diatas maka sebenarnya banyak lagi hal yang bisa di sebut digital diantaranya, Kode asap orang indian kuno, kode morse, braile, kode DNA, bahkan kode bendera Semaphore juga bisa dibilang digital.

Penerapan teknologi yangmendukung pekerjaan dapat mengurangi beban kerja pegawai sehingga mereka memilikikesempatan untuk menggarap bidang lain yang sebelumnya tidak tergarap, atau dengan katalain memperluas dan memperdalam wilayah pekerjaan dalam lingkup job description dan kompetensinya.
Pada perkembangan berikutnya, sebagian besar pekerjaan kemudian dapat ditangani olehperangkat teknologi informasi sehingga kebutuhan perusahaan akan pegawai menjadiberkurang. Pengurangan pegawai akan menyebabkan beban honor berkurang. Kemudian danadapat dialokasi kepada hal lainnya yang penting, seperi peningkatan gaij pegawai, atau menjadiinvestasi jangka panjang perusahaan untuk keperluan pengembangan usaha, peningkatanlayanan, atau pengembangan teknologi.
Penggunaan Teknologi Informasi oleh sebagain besar lembaga, industri dan perusahaan,telah menciptakan daya saing yang lebih cepat lagi, di mana setiap pemilik modal akan dapatmengambil keuntungan dari perusahaannya secepat mungkin sepanjang lawan bisnisnya kalahdalam menerapkan Teknologi Informasi.



Related Articles

0 comments:

Post a comment

Silahkan dicomment ya, dan kalo ada yang mau ditanya silahkan tulis di bawah ini ^_^v

Visitor